Semarang — Sebanyak 51 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah di seluruh Indonesia resmi memulai Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) II Angkatan XXVIII di Kampus Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (3/8/2026). Pelatihan ini akan berlangsung selama lebih dari empat bulan, dihitung sejak 3 Agustus hingga 14 Desember 2026.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang membuka langsung acara tersebut menegaskan bahwa tantangan kompetensi kepemimpinan saat ini menuntut lebih dari sekedar kemampuan menjalankan administrasi pemerintahan. Para pemimpin, kata Luthfi, harus mampu menghadirkan inovasi nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Bekal Kepemimpinan, Bukan Sekadar Administrasi
Menurut Luthfi, PKN II dirancang sebagai ruang belajar sekaligus ruang membangun jejaring kolaborasi lintas daerah bagi para pesertanya.
“Harapannya nanti setelah PKN, peserta pulang ke provinsi atau daerahnya bisa mengubah birokrasinya atau melakukan inovasi ide-ide kreatif, sehingga mereka juga akan lebih maju,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kemampuan berkoordinasi dan berkolaborasi menjadi modal penting bagi seorang pemimpin dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan yang kompleks. Selama pelatihan, para peserta juga akan mendapat pembekalan dari sejumlah narasumber, yang diharapkan bisa langsung diterapkan begitu mereka kembali bertugas di instansi masing-masing.
Luthfi menambahkan, inovasi harus menjadi karakter utama yang melekat pada diri seorang pemimpin, karena kepemimpinan yang adaptif akan sangat menentukan kecepatan dan ketepatan seorang ASN dalam mengambil keputusan di lapangan.
“Karena ini adalah kepemimpinan sekolah minimal dia harus mempunyai kepemimpinan transformasional. Contohnya, kepemimpinan yang adaptif di masa depan akan menentukan bagaimana mereka nantinya bertindak di lapangan,” tegasnya.
dirancang untuk Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama
Kepala BPSDMD Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, menjelaskan bahwa PKN II secara khusus dirancang untuk mengembangkan kompetensi manajerial pejabat pimpinan tinggi pratama, agar mereka mampu menyusun kebijakan strategi yang benar-benar memberi solusi atas berbagai tantangan pembangunan di instansi masing-masing.
Ia berharap pelatihan ini melahirkan pemimpin yang mampu meningkatkan kinerja organisasi, menyusun strategi yang adaptif, kolaboratif, dan terintegrasi, sekaligus membangun kapasitas organisasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Harapannya ini dapat menjawab tantangan dari masing-masing pimpinan. Kalau dari kementerian berarti apa yang menjadi program prioritas kementerian. Kalau dari kabupaten kota tentu sesuai dengan program prioritas bupati wali kota, baik di Jawa Tengah maupun luar Jawa Tengah,” jelasnya.
Rincian 51 Peserta: dari Kementerian hingga Pelosok Papua
Angkatan XXVIII PKN II ini diikuti peserta dengan latar belakang instansi yang cukup beragam, mencerminkan skala nasional dari pelatihan ini:
- Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan — 4 orang
- Kementerian Hukum dan HAM — 5 orang
- Kementerian Transmigrasi — 1 orang
- Badan Intelijen Negara (BIN) — 1 orang
- Pemprov Jawa Tengah — 2 orang
- Pemprov Riau — 1 orang
- Kota Ambon — 17 orang
- Kota Manado — 2 orang
- Kabupaten Tambrauw — 2 orang
- Kabupaten Puncak Jaya — 1 orang
- Kabupaten Pegunungan Bintang — 1 orang
- Kabupaten Kebumen — 4 orang
- Kabupaten Rembang — 2 orang
- Kabupaten Wonosobo — 1 orang
- Kabupaten Jepara — 7 orang
Komposisi ini menunjukkan peserta datang dari wilayah yang sangat beragam, mulai dari kementerian di pusat, provinsi di Sumatera dan Jawa, hingga kabupaten di pedalaman Papua seperti Puncak Jaya dan Pegunungan Bintang — menegaskan skala nasional dari program penguatan kepemimpinan ini.
Suara dari Peserta: Kepala Dinas Perikanan Ambon Bicara Tuna dan PAD
Salah satu peserta, Kepala Dinas Perikanan Kota Ambon, Claudia Simatupang, mengaku berharap pelatihan ini bisa memperkuat kapasitas kepemimpinannya agar mampu memberikan manfaat lebih besar, khususnya bagi masyarakat nelayan di Kota Ambon.
Ia menyebut potensi perikanan Kota Ambon didominasi komoditas tuna, tongkol, dan cakalang — sektor yang menurutnya masih memerlukan dukungan kebijakan inovatif agar dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Untuk potensi perikanan kami itu produk unggulan kami itu tuna, tongkol, cakalang. Saya berharap dengan mengikuti PKN ini saya bisa membawa perubahan, dan meningkatkan PAD bagi Kota Ambon,” ungkapnya.
LAN RI: Pemimpin Harus Bisa Eksekusi Gagasan Jadi Aksi Nyata
Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Erna Irawati, menambahkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin pada akhirnya ditentukan oleh tiga kemampuan: membaca tantangan masa depan, mengeksekusi gagasan menjadi aksi nyata, dan membangun kolaborasi yang menghasilkan perubahan berdampak.
Ia berharap seluruh peserta dapat saling mendukung sepanjang proses pembelajaran, sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar memberi manfaat bagi instansi dan masyarakat masing-masing.
“Saya berharap semuanya saling membantu dengan yang lain untuk menyukseskan pembelajaran, dan juga memberikan manfaat bagi instansinya masing-masing,” pungkas Erna.










