Gresik — Bertahun-tahun warga Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, hidup berdampingan dengan rumah yang tak lagi layak — atap bocor, air masuk saat hujan, lingkungan yang jauh dari kata sehat. Sabtu (1/8/2026), babak itu resmi ditutup. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meresmikan Program Pengentasan Kawasan Permukiman Kumuh Terpadu melalui skema Dana Alokasi Khusus Tematik Pengentasan Kawasan Kumuh Terpadu (DAK-TPPKT) Tahun Anggaran 2025.
Peresmian ini menjadi bukti konkret bahwa kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan bisa menghadirkan kawasan masyarakat yang benar-benar ASRI — aman, sehat, resik, dan indah — bukan sekadar slogan di atas kertas.
166 Unit Rumah, Dibangun dengan Empat Skema Berbeda
Program ini berhasil mewujudkan 166 unit rumah melalui kombinasi empat skema pembangunan:
- 69 unit — pembangunan baru relokasi
- 33 unit — pembangunan baru di situ
- 43 unit — peningkatan kualitas rumah
- 21 unit — pembangunan baru melalui dukungan Corporate Social Responsibility (CSR)
Dari total tersebut, Gubernur Khofifah merasa bahwa 145 unit didanai melalui DAK-TPPKT, sementara 21 unit sisanya merupakan hasil kontribusi CSR Pakuwon Group bersama Habitat for Humanity Indonesia — kolaborasi yang menurutnya menjadi contoh nyata pembangunan inklusif antara pemerintah dan dunia usaha.
“Alhamdulillah, hari ini masyarakat Desa Campurejo bisa merasakan langsung manfaat nyata dari sinergi dan kolaborasi mulai pemerintah pusat, daerah dan sektor swasta,” ujar Khofifah. “Program ini tidak sekedar membangun rumah, tetapi juga membangun harapan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui lingkungan yang lebih layak huni.”
Bukan Cuma Rumah — Ada Drainase, IPAL, hingga Bank Sampah
Yang membuat program ini berbeda dari sekedar rekonstruksi rumah adalah kelengkapan infrastruktur pendukungnya. Kawasan seluas 7,11 hektare ini kini dilengkapi jalan lingkungan, drainase, tandon air, sambungan air bersih rumah tangga, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
Total, program ini memberikan manfaat langsung bagi 288 kepala keluarga , atau sekitar 1.152 jiwa , dengan standar bangunan luas tanah 6×10 meter dan luas rumah 6×7 meter per unit.
“Perbedaannya jauh sekali antara sebelum dan sesudahnya. Tidak hanya rumahnya yang berubah menjadi lebih baik, tapi juga lingkungan sekitarnya,” tegas Khofifah.
Gubernur Turun Langsung, Dengar Cerita Warga
Momen paling pribadi dari kunjungan ini terjadi saat Khofifah dan AHY menyempatkan diri berdialog langsung dengan warga penghuni rumah hasil pembangunan maupun revitalisasi. Khofifah mengaku terharu mendengar ucapan terima kasih yang disampaikan langsung oleh masyarakat.
“Saya sempat menyapa beberapa keluarga yang kini menempati rumah yang telah dibangun dan direvitalisasi. Saya merasa terharu ketika mereka menyampaikan terima kasih karena kini memiliki tempat tinggal yang jauh lebih layak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pembangunan kawasan organisasi tidak bisa berhenti hanya pada pembangunan rumah semata, tetapi juga wajib melengkapi infrastruktur dasar agar masyarakat bisa hidup lebih sehat, aman, dan produktif.
AHY: Jatim Bukan Cuma Terima Bantuan, Tapi Juga Ikut Menanggung Beban
Di hadapan warga, Menko AHY memberikan apresiasi khusus kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur — bukan sekadar karena menjadi salah satu penerima Program DAK-TPPKT 2025, melainkan karena komitmen tambahan yang disampaikan melalui APBD provinsi sendiri.
Program DAK-TPPKT 2025 di Jawa Timur menyasar lima lokasi: Kabupaten Gresik, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Madiun . Di luar lima lokasi itu, Pemprov Jatim bahkan menambah dukungan mandiri melalui APBD untuk dua lokasi tambahan, yakni Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan .
“Saya mengapresiasi Ibu Gubernur. Selain lima lokasi yang mendapatkan dukungan DAK, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memberikan dukungan tambahan melalui APBD. Ini menunjukkan komitmen masyarakat yang kuat agar semakin banyak dapat menikmati perumahan yang layak,” ujar AHY.
Ia menegaskan, program semacam ini adalah wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Ini adalah bukti bahwa negara hadir, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah hadir untuk masyarakat yang kita cintai. Kita ingin memastikan kualitas hidup masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu,” katanya.
Suara Warga: “Dulu Kalau Hujan, Air Masuk ke Dalam Rumah”
Kisah paling menyentuh datang langsung dari penerima manfaat, Imam Hamsori. Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang jauh dari layak huni, kini keluarganya bisa merasakan hidup dengan cara yang berbeda.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Menko AHY, Ibu Gubernur Khofifah, Bapak Bupati Gresik, Pak Camat, dan Pemerintah Desa Campurejo. Dulu rumah saya kondisinya sangat memprihatinkan. Kalau hujan, air masuk ke dalam rumah. Sekarang alhamdulillah sudah memiliki rumah yang layak huni,” ucapnya.
Bagi Imam, perubahan ini bukan hanya soal atap dan dinding baru, tapi juga tentang suasana kampung yang jauh berbeda dari sebelumnya.
“Dulu lingkungan kami kumuh, sekarang jauh lebih rapi dan nyaman. Warga menjadi semakin akrab, suasana kampung juga lebih nyaman dan sejuk. Kami benar-benar merasakan kebahagiaan dengan perubahan ini,” tutupnya.










