Beranda / YOGYAKARTA / Dari Bahan Gamelan Abad ke-19 hingga Teknologi Gempa: Sri Sultan Inisiasi Sister Province Jogja-Cili!

Dari Bahan Gamelan Abad ke-19 hingga Teknologi Gempa: Sri Sultan Inisiasi Sister Province Jogja-Cili!

FOKUSKITA.COM, YOGYAKARTA – Langkah diplomasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali mencuri perhatian dunia internasional. Bukan sekadar diplomasi seremonial biasa, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara proaktif menginisiasi kerja sama Sister Province (provinsi kembar) antara Yogyakarta dengan Cili—salah satu negara paling maju di kawasan Pasifik, Amerika Selatan.

Gagasan visioner ini mengemuka saat Sri Sultan menerima kunjungan kenegaraan Duta Besar Cili untuk Indonesia dan ASEAN, Mario Ignacio Artaza, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (19/6/2026).

Turut mendampingi dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Ghofar Ismail, membocorkan bahwa inisiatif kemitraan global ini lahir langsung dari pemikiran Ngarsa Dalem.

“Tanggapan Ngarsa Dalem sangat luar biasa. Usulan Sister Province ini justru datang langsung dari beliau dan direspons amat positif oleh Dubes Cili. Pihak Kedubes akan segera mencarikan mitra wilayah di Cili yang memiliki value dan potensi seimbang dengan Yogyakarta,” ungkap Ghofar.

Fakta Sejarah Unik: Tembaga Gamelan Jogja Impor dari Cili Sejak 1836

Di balik penjajakan kerja sama ini, ternyata tersimpan jejak sejarah unik yang jarang diketahui publik. Hubungan dagang antara Jogja dan Cili rupanya telah mengakar sejak abad ke-19!

Catatan historis menunjukkan bahwa pada tahun 1836, Keraton Yogyakarta pernah mendatangkan komoditas tembaga berkualitas dari Cili. Tembaga tersebut digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan gamelan Jawa pada masa itu. Pondasi historis yang kokoh inilah yang kini dihidupkan kembali dalam kemasan modern bertaraf global.

Duta Besar Cili, Mario Ignacio Artaza, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap warisan budaya dan visi masa depan Yogyakarta.

“Ini adalah kebanggaan dan kehormatan besar bagi Cili. Sebagai sesama bangsa Pasifik, kami sangat menghormati tradisi dan sejarah Yogyakarta yang terikat sejak lama,” tegas Artaza.

Sama-sama di Jalur Ring of Fire: Dari Riset Bencana hingga Teknologi Anti-Gempa

Tak hanya soal nostalgia sejarah dan seni budaya, potensi kolaborasi ini sangat strategis karena Yogyakarta dan Cili berbagi karakteristik geografis yang serupa: sama-sama berada di jalur Cincin Api (Ring of Fire).

Sektor-sektor krusial yang siap diakselerasi antara lain:

  • Teknologi anti-gempa & konstruksi: Mengingat Cili memiliki standar bangunan tahan gempa terbaik di dunia.
  • Vulkanologi & Mitigasi Kebencanaan: Pengembangan riset bersama untuk mitigasi risiko bencana alam.
  • Pertanian & Ekonomi Kreatif: Transfer teknologi pangan dan ekspansi rantai pasok global.
  • Pendidikan & Riset: Memperluas program pertukaran periset, dosen, dan mahasiswa yang telah dirintis oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pontificia Universidad Católica de Chile.

Magnet Baru Investasi Berkelanjutan

Dengan terbentuknya kesepakatan Sister Province kelak, Jogja diproyeksikan tidak hanya memperkuat posisi tawarnya sebagai pusat kebudayaan dunia, tetapi juga membendung celah untuk masuknya arus investasi hijau (green investment), jaringan pariwisata global, serta riset sains terapan.

Langkah berani Sri Sultan ini membuktikan bahwa diplomasi daerah mampu menembus batas benua, merajut masa lalu, dan membangun masa depan yang aman serta tangguh dari ancaman bencana.

Redaksi Fokuskita.com akan terus mengawal perkembangan kemitraan strategis DIY-Cili ini secara akurat dan terpercaya.FOKUSKITA.COM, YOGYAKARTA – Langkah diplomasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali mencuri perhatian dunia internasional. Bukan sekadar diplomasi seremonial biasa, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara proaktif menginisiasi kerja sama Sister Province (provinsi kembar) antara Yogyakarta dengan Cili—salah satu negara paling maju di kawasan Pasifik, Amerika Selatan.

Gagasan visioner ini mengemuka saat Sri Sultan menerima kunjungan kenegaraan Duta Besar Cili untuk Indonesia dan ASEAN, Mario Ignacio Artaza, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (19/6/2026).

Turut mendampingi dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Ghofar Ismail, membocorkan bahwa inisiatif kemitraan global ini lahir langsung dari pemikiran Ngarsa Dalem.

“Tanggapan Ngarsa Dalem sangat luar biasa. Usulan Sister Province ini justru datang langsung dari beliau dan direspons amat positif oleh Dubes Cili. Pihak Kedubes akan segera mencarikan mitra wilayah di Cili yang memiliki value dan potensi seimbang dengan Yogyakarta,” ungkap Ghofar.

Fakta Sejarah Unik: Tembaga Gamelan Jogja Impor dari Cili Sejak 1836

Di balik penjajakan kerja sama ini, ternyata tersimpan jejak sejarah unik yang jarang diketahui publik. Hubungan dagang antara Jogja dan Cili rupanya telah mengakar sejak abad ke-19!

Catatan historis menunjukkan bahwa pada tahun 1836, Keraton Yogyakarta pernah mendatangkan komoditas tembaga berkualitas dari Cili. Tembaga tersebut digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan gamelan Jawa pada masa itu. Pondasi historis yang kokoh inilah yang kini dihidupkan kembali dalam kemasan modern bertaraf global.

Duta Besar Cili, Mario Ignacio Artaza, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap warisan budaya dan visi masa depan Yogyakarta.

“Ini adalah kebanggaan dan kehormatan besar bagi Cili. Sebagai sesama bangsa Pasifik, kami sangat menghormati tradisi dan sejarah Yogyakarta yang terikat sejak lama,” tegas Artaza.

Sama-sama di Jalur Ring of Fire: Dari Riset Bencana hingga Teknologi Anti-Gempa

Tak hanya soal nostalgia sejarah dan seni budaya, potensi kolaborasi ini sangat strategis karena Yogyakarta dan Cili berbagi karakteristik geografis yang serupa: sama-sama berada di jalur Cincin Api (Ring of Fire).

Sektor-sektor krusial yang siap diakselerasi antara lain:

  • Teknologi anti-gempa & konstruksi: Mengingat Cili memiliki standar bangunan tahan gempa terbaik di dunia.
  • Vulkanologi & Mitigasi Kebencanaan: Pengembangan riset bersama untuk mitigasi risiko bencana alam.
  • Pertanian & Ekonomi Kreatif: Transfer teknologi pangan dan ekspansi rantai pasok global.
  • Pendidikan & Riset: Memperluas program pertukaran periset, dosen, dan mahasiswa yang telah dirintis oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pontificia Universidad Católica de Chile.

Magnet Baru Investasi Berkelanjutan

Dengan terbentuknya kesepakatan Sister Province kelak, Jogja diproyeksikan tidak hanya memperkuat posisi tawarnya sebagai pusat kebudayaan dunia, tetapi juga membendung celah untuk masuknya arus investasi hijau (green investment), jaringan pariwisata global, serta riset sains terapan.

Langkah berani Sri Sultan ini membuktikan bahwa diplomasi daerah mampu menembus batas benua, merajut masa lalu, dan membangun masa depan yang aman serta tangguh dari ancaman bencana.

Redaksi Fokuskita.com akan terus mengawal perkembangan kemitraan strategis DIY-Cili ini secara akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *