Beranda / Politics / Dulu Modal Kaki, Sekarang Modal Mio: Larangan Dedi Mulyadi Bikin Warganet Flashback Masa Sekolah

Dulu Modal Kaki, Sekarang Modal Mio: Larangan Dedi Mulyadi Bikin Warganet Flashback Masa Sekolah

Fokuskita.com – “Dulu mah jalan kaki aja sekolah, kok sekarang dikit-dikit naik motor.”

Kalimat itu belakangan kembali ramai setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan larangan bagi pelajar membawa sepeda motor ke sekolah. Alasannya sederhana, tetapi penting: keselamatan.

Kebijakan ini langsung memantik perdebatan. Ada yang mendukung karena banyak pelajar belum cukup umur dan belum memiliki SIM, tetapi sudah wara-wiri di jalan raya. Ada juga yang menganggap aturan ini perlu diimbangi solusi, terutama bagi siswa yang rumahnya jauh dari sekolah.

Tapi di balik semua perdebatan itu, ada satu hal yang justru bikin banyak orang tersenyum: kenangan masa sekolah.

Waktu Sekolah Dulu Naik Apa?

Coba jujur. Dulu berangkat sekolah naik apa?

Kalau rumah dekat, ya jalan kaki. Berangkat rame-rame sambil nunggu teman keluar rumah. Kadang baru sampai gerbang sekolah kaus kaki sudah kotor karena jalanan masih tanah.

Kalau agak jauh, sepeda jadi kendaraan paling keren. Bukan karena mahal, tapi karena bisa bonceng teman—meski ujung-ujungnya dimarahi orang tua karena gowesnya kebut-kebutan.

Yang tinggal di kota pasti akrab dengan angkot. Ada yang sengaja duduk dekat pintu biar gampang turun, ada juga yang pura-pura tidur supaya nggak diajak ngobrol bapak sopir.

Belum lagi momen mengejar angkot yang sudah jalan sambil teriak, “Bang… bang… depan sekolah!”

Kalau beruntung, ada yang diantar ayah atau ibu pakai motor. Tapi begitu sampai gerbang sekolah, langsung bilang, “Udah, sampai sini aja, malu dilihat teman.”

Sekarang Zamannya Berubah

Berbeda dengan sekarang. Motor sudah menjadi pemandangan biasa di parkiran sekolah. Bahkan tak sedikit pelajar yang mengendarainya sendiri meski usianya belum memenuhi syarat memiliki SIM.

Padahal, jalan raya bukan tempat belajar berkendara. Sedikit lengah saja, risikonya bisa sangat besar.

Karena itulah, kebijakan Dedi Mulyadi dinilai sebagai langkah untuk mengurangi potensi kecelakaan yang melibatkan pelajar. Meski begitu, banyak pihak berharap pemerintah juga memperkuat transportasi umum atau menyediakan kendaraan sekolah agar siswa yang rumahnya jauh tetap bisa berangkat dengan aman.

Bukan Sekadar Soal Motor

Kalau dipikir-pikir, larangan ini bukan cuma soal boleh atau tidak membawa motor.

Ini seperti mengingatkan kita bahwa masa sekolah dulu ternyata tetap menyenangkan, meski tanpa kendaraan pribadi.

Pulang sekolah masih sempat main bola di lapangan, beli es lilin, mampir ke warung buat beli ciki seribuan, atau nongkrong di pos ronda sampai lupa waktu.

Barangkali, yang paling kita rindukan bukan kendaraan yang dipakai, melainkan perjalanan menuju sekolah itu sendiri.

Nah, sekarang giliran Anda menjawab.

Dulu berangkat sekolah naik apa? Jalan kaki, sepeda, angkot, bus, atau diantar orang tua? Jangan-jangan, cerita sederhana itu kini justru menjadi kenangan yang paling mahal.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *