TANGERANG – Kota Tangerang mendadak lumpuh di sektor mobilitas. Selama empat hari terakhir, pemandangan antrean kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan di depan SPBU telah menjadi rutinitas menyedihkan. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang terjadi secara masif membuat warga merasa Tangerang kini diperlakukan seolah daerah terpencil di luar Pulau Jawa yang sulit tersentuh distribusi energi.
Suara dari ‘Garis Depan’ Antrean
Keresahan memuncak di lapangan. Tidak sedikit warga yang harus mematikan mesin kendaraan dan mendorongnya demi menghemat tetes terakhir sisa bahan bakar saat mengantre.
Budi (34), seorang pengemudi ojek online yang ditemui di salah satu SPBU di wilayah Cipondoh, mengungkapkan kekesalannya. “Ini sudah empat hari, Mas. Saya muter sampai tiga SPBU, semuanya kosong. Kalaupun ada, antreannya sampai bikin macet total. Kami ini cari makan pakai motor, kalau bensin susah begini, dapur kami tidak mengepul,” ujarnya dengan nada tinggi yang menyiratkan frustrasi mendalam.
Senada dengan Budi, seorang ibu rumah tangga yang sedang mengantre di wilayah Karawaci mengaku terpaksa beralih ke Pertamax meski berat di ongkos. “Mau bagaimana lagi? Anak harus sekolah, saya harus kerja. Pertalite hilang seperti ditelan bumi. Kalaupun ada, itu antreannya lebih mirip mau terima bantuan sosial, panjang sekali,” keluhnya.
Analisis Tajam: Ketimpangan Distribusi atau Penimbunan?
Pemandangan antrean panjang yang terjadi di pusat penyangga ibu kota ini menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ini sekadar masalah teknis distribusi, atau ada permainan di tingkat bawah yang menyebabkan disparitas stok yang mencolok?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan konkret dari otoritas terkait mengenai “hilangnya” Pertalite secara serentak di berbagai titik di Tangerang. Warga kini mulai berspekulasi adanya praktik penimbunan oleh oknum tak bertanggung jawab atau kesalahan manajemen distribusi yang mengabaikan kebutuhan wilayah padat penduduk seperti Tangerang.
Jeritan Warga: Kami Bukan Warga Kelas Dua
Kesan bahwa wilayah Tangerang sedang “dianaktirikan” mencuat kuat di media sosial. Banyak warganet membandingkan kelancaran pasokan di pusat kota besar lain dengan sulitnya mendapatkan akses energi di Tangerang saat ini.
“Tangerang ini penyangga ibu kota, tapi kok rasanya kayak di pelosok yang bensinnya langka berhari-hari? Pemerintah jangan cuma diam, rakyat sudah menjerit!” tulis salah satu akun di media sosial lokal yang membagikan video antrean panjang.
Tuntutan publik kini jelas: Transparansi dari Pertamina dan tindakan tegas dari Pemkot Tangerang untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke seluruh SPBU yang diduga melakukan penahanan stok. Masyarakat tidak butuh janji “pasokan aman” di atas kertas, mereka butuh realisasi di dispenser-dispenser SPBU.









